Dalam
sebuah konferensi hi-tech di TED Global Conference, Oxford beberapa waktu lalu,
diperkenalkan sebuah sistem jaringan listrik yang tidak menggunakan kabel
(wireless). Sistem ini mempergunakan teknik fisika yang cukup sederhana yang
mampu menyuplai tenaga ke beberapa perangkat elektronik.
Pada
konferensi tersebut, pemateri menunjukkan telepon seluler dan televisi yang
ditenagai oleh listrik secara wireless. Dia mengatakan bahwa sistem tersebut
bisa menggantikan ribuan mil kabel dan baterai yang mahal. "Hampir 40 juta
baterai diproduksi tiap tahun", katanya. Milyaran dolar juga telah
dihabiskan untuk membangun infrastruktur jaringan kabel untuk menyalurkan energi
listrik, lanjutnya. Ilmuwan tersebut mencontohkan dengan memakai ponsel Google G1
dan iphone Apple yang ditenagai dengan sistem tersebut. Selain ponsel, dia juga
menampilkan televisi yang memakai sistem kelistrikan wireless ini. "Bayangkan,
anda bisa menaruh televisi ini menggantung di dinding rumah anda tanpa perlu
mencari stop kontak," ujarnya.
Bagaimanakah sebenarnya jaringan listrik wireless tersebut?
Sistem
jaringan listrik wireless berdasarkan pada teori yang awalnya dikemukakan oleh
ahli fisika Marin Soljacic dari MIT (Massachusetts Institute of Technology).
Konsep utama yang dipakai adalah konsep resonansi, dimana transfer energi
berlangsung lebih efisien.
Ketika
dua benda mempunyai frekuensi resonan yang sama, akan terjadi transfer energi
dengan kuat tanpa mempengaruhi benda-benda lain di sekitarnya. Sebagaimana
halnya resonansi bisa memecahkan gelas saat seorang penyanyi melengking pada
frekuensi yang tepat sama dengan frekuensi getar gelas.
Sistem
jaringan listrik wireless menggunakan 2 kumparan (salah satu pada jaringan
listrik utama, dan yang lain pada perangkat elektronik). Frekuensi yang dipakai
merupakan frekuensi rendah. Masing-masing kumparan dibuat sedemikian hingga
mempunyai frekuensi resonan yang sama. Ketika kumparan utama dihubungkan dengan
power suply, medan elektromagnetik yang dihasilkan akan berresonansi dengan
kumparan kedua, sehingga terjadi aliran energi listrik. Listrik pada kumparan
kedua merupakan GGL (gaya gerak listrik) induksi.
Perangkat
elektronik yang memakai sistem ini akan langsung ter-charge manakala berada
dalam area jangkauan medan magnetik kumparan pertama.
Aspek Keamanan
Menurut
ilmuwan yang mengenalkan sistem tersebut, sistem ini cukup aman karena transfer
energi dilakukan melalui gelombang elektromagnetik. "Manusia dan
objek-objek disekitar kita adalah benda-benda non-magnetik.", ujarnya.
Pada
kesempatan lain, sistem penghantaran listrik wireless ini juga diterapkan pada
sistem lampu penerangan. Perusahaan Intel di San Francisco berhasil membuat
rangkaian wireless lampu bohlam 60 watt yang bisa menyala pada jarak 3 kaki (36
cm) dari kumparan utama. Rangkaian ini cukup efisien, hanya kehilangan 1/4
energi mula-mula. Pada jarak yang lebih jauh (kira-kira 7 kaki atau 84 cm) tingkat
efisiensinya berkisar 40-45 %. Pihak Intel menamakan sistem
ini dengan WREL (Wireless Resonant Energy Link) sedangkan pihak MIT menamakan
witricity (singkatan wireless dan electricity)
Sumber : http://www.fisikaasyik.com/home02/content/view/338/39/